LABUHAN BATU, Waspada.co.id – Miris dan memilukan, warga yang bermukim sepanjang jalan bagaikan kubangan lumpur, dari Tangkahan perahu boat di Desa Sei Jawi-Jawi Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu, hingga ke Kelurahan Kampung Mesjid, Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura), Provinsi Sumatera Utara.
Seolah-olah kemerdekaan yang telah dirayakan selama 79 tahun lebih belum membawa secuil pun harapan bagi infrastruktur jalan di dua daerah kabupaten itu.
Hingga hari ini, kondisi jalan di sana masih lebih mirip kubangan kerbau ketimbang akses transportasi yang layak. Puluhan kilometer jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian justru berubah menjadi jalur penderitaan bagi masyarakat.
Informasi diperoleh Waspada Online di sepanjang jalan itu, aspal yang bagi daerah lain mungkin sudah menjadi hal biasa, tak pernah sekali pun menyentuh permukaan sepanjang jalan ini.
“Kami sudah lelah berharap. Ketika musim hujan, jalan ini seperti lautan lumpur, kendaraan terbenam, orang-orang terpaksa mendorong motor atau bahkan berjalan kaki puluhan kilometer. Saat musim kemarau, debu tebal menguasai udara, membuat kami seperti hidup dalam kepungan kabut,” keluh seorang warga setempat kepada Waspada Online, Selasa (1/4).
Setiap hari, anak-anak sekolah harus berjuang melewati genangan lumpur, sementara petani dan pedagang yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian padi dan hasil bumi, terpaksa menempuh risiko tinggi demi menjual hasil panen mereka. Ambulans pun nyaris mustahil menjangkau desa-desa di daerah ini dengan cepat, sehingga nyawa bisa melayang hanya karena keterlambatan mendapatkan pertolongan medis.
Janji demi janji pembangunan telah diucapkan bertahun-tahun, namun kenyataannya, perbaikan tak kunjung datang. Harapan masyarakat kini tertuju pada pemerintah daerah dan pusat, berharap agar mereka membuka mata hati dan hati nurani terhadap penderitaan rakyatnya selama berpuluh-puluh tahun.
Sementara itu, sejumlah tokoh masyarakat telah menyuarakan protes atas kondisi ini. Mereka menuntut transparansi anggaran dan meminta agar pemerintah segera merealisasikan pembangunan jalan yang layak. “Jalan ini bukan hanya soal akses, tapi juga soal nyawa dan kesejahteraan. Kami tidak ingin lagi janji-janji kosong,” tegas seorang tokoh pemuda setempat.
Beberapa warga bahkan mulai menggalang petisi dan mengunggah kondisi jalan tersebut ke media sosial dengan harapan mendapatkan perhatian lebih luas. Namun hingga kini, belum ada tanggapan konkret dari pihak terkait.
Sampai kapan masyarakat harus terus menanggung beban ini? Ataukah keadilan pembangunan hanya menjadi impian bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat kota? Pertanyaan ini masih menggantung, sama seperti asa warga yang terus menanti keajaiban di negeri yang sudah merdeka hampir delapan dekade ini.
Pemudik saat melintasi jalan ini, Abdul Rahman mengatakan, 10 tahun yang lalu ditinggalkannya kampung halamannya di sekitat Sei Jawi-jawi , saat pulang lebaran ini kondisinya tetap jalan tanah. “Wah jalan ini tak ada perubahan, tetap jugaknya kubangan lumpur. Harapan kami kepada Bupati yang baru, agar mengaspal jalan ini agar layak dilalui warga,” harapnya. (wol/acm/d2)
Editor: Rizki Palepi
Discussion about this post