MEDAN, Waspada.co.id – Dahulu Gedung Warenhuis yang terletak di Jalan Ahmad Yani VII sangat tidak terurus. Terlihat di sana sini banyak fisik bangunan yang sudah rusak termakan usia. Kondisi itu diperparah lagi dengan banyaknya kelompok-kelompok yang memanfaatkan bangunan untuk dijadikan markas atau kantor.
Gedung Warenhuis dibangun pada zaman Tembakau Deli manjadi roda perekonomian paling berpengaruh di Kota Medan dan barometer pulau Sumatera. Dahulu,
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Medan, OK Zulfani Anhar, mengatakan Gedung Warenhuis letaknya tidak jauh dari Masjid Bengkok atau tepatnya Mesjid ‘Datok Kesawan’.
“Dahulu kala, gedung megah Warenhuis adalah supermarket toserba (toko serba ada) tempat menjual pakaian, bahan pangan dan perabotan rumah tangga sampai tempat mejeng anak muda di masa itu. Setiap hari Jumat Werenhuis tutup dan buka di tiap hari lainnya,” ungkapnya, Senin (24/3).
OK Zulfani menceritakan, pada pintu masuk Gedung Warenhuis tertoreh tulisan ‘op den 16:2:1919, werd voor dit gebouw, de eerste, steen gelegd door, Daniel Baron Mackay Burgermeester Van Medan’.
“Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira seperti ini artinya, ‘Peletakan batu pertama Warenhuis oleh Wali Kota Medan pertama, Daniel Baron Mackay pada hari Minggu 16 Februari 1919,” jelasnya.
Lebih lanjut OK Zulfani menambahkan, Gedung Warenhuis yang berada di kampung Kesawan ini sangat menarik untuk diteliti dan dinikmati menjadi destinasi Kota Tua Medan.
Mengingat selama ini orang Medan sendiri meyakini bahwa plaza-plaza semacam Olympia, Deli Plaza, Medan Plaza, Perisai Plaza, dan seterusnya adalah supermarket tertua di Kota Medan.
“Faktanya, pada tahun 1919 sudah ada toko serba ada di Tanah Deli Medan yang menjual segala kebutuhan pakaian, pangan dan rumah tangga. Gedung Warenhuis ini juga menjadi bukti sejarah keberadaan kejayaan Kesultanan Deli,” pungkasnya. (wol/mrz/d2)
Editor: Rizki Palepi
Discussion about this post