JAKARTA, Waspada.co.id – Momen Idulfitri adalah kesempatan untuk menata hati. Membersihkan jiwa. Menata fitrah setelah sebulan ditempa ibadah puasa Ramadan. Bukan sekedar fitrah diri sendiri. Melainkan fitrah dalam kehidupan masyarakat. Terutama dalam menegakkan nilai-nilai keadilan dan kebenaran.
“Nah, saat ini, Terkait dengan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyakat sehari-hari, kita masih melihat amanah yang belum sepenuhnya dijaga dan dilaksanakan. Yakni, amanah menegakkan keadilan.”
Demikian cuplikan penting pesan Idulfitri 1446 H, yang disampaikan salah seorang imam Masjid Istiqlal, Jakarta, Ustadz Muhdori Abdur Razak, M.Pd, dalam khutbahnya usai solat Idulfitri di halaman Masjid At Tabayyun, Taman Villa Meruya, Jakarta Barat.
Dihadapan sekitar 1.000 jamaah yang hadir dalam solat Ied itu, Ustadz Muhdori A. Razak menyayangkan bahwa amanah menegakkan keadilan yang seharusnya menjadi landasan utama, terkadang terhalang oleh kepentingan segelintir orang.
Sambil mengutip hadis Rasullah saw yang diriwayatkan Imam Bukhari, Khotib Muhdori mengingatkan:
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran (kiamat).”
Dengan nada suara datar dan tegas, Khotib sempat menggambarkan suasana kekinian yang dirasakan dan dilihat masyarakat. “Kita menyaksikan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat. Dari melonjaknya harga kebutuhan pokok hingga ketimpangan dalam hukum. Keputusan yang diambil seharusnya berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan hanya untuk kepentingan segelintir pihak.”
Ini seharusnya tidak didiamkan dan diteruskan.
Mengutip ulama terkemuka Al Imam Ibn Taimiyyah rahimahullahu ta’ala, Khotib kembali mengingatkan bahwa
“Allah akan menolong negara yang adil meskipun penduduknya kafir, dan tidak akan menolong negara yang zalim meskipun penduduknya Muslim.”
Sejarah telah membuktikan, tambahnya, bahwa ketidakadilan dapat menjadi faktor utama runtuhnya sebuah peradaban.
Sejarawan besar Amerika Serikat, Will Durant, dalam kajiannya terhadap sejarah peradaban, menyebutkan bahwa banyak bangsa besar runtuh bukan karena serangan dari luar. Tetapi akibat korupsi internal, ketidakadilan, dan degradasi moral.
Begitu pula Arnold Joseph Toynbee, seorang sejarawan Inggris, dalam karyanya A Study of History. Toynbee menyatakan:
“Bangsa-bangsa tidak akan runtuh karena kemiskinan, akan tetapi karena hilangnya moralitas dan keadilan dalam pemerintahan mereka.”
Makanya Khotib menyerukan,
jika kita ingin penduduk negeri ini terus maju dan Allah SWT memberikan keberkahan, maka keadilan harus menjadi prioritas utama. Para pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menegakkan keadilan, sementara masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga nilai-nilai kebenaran.
Namun, dalam realitas kehidupan, Khotib Muhdori mengakui dan menyayangkan, tidak semua orang berani menyuarakan kebenaran. Ada yang memilih diam karena takut atau merasa tidak berdaya.
Padahal, para ulama kita telah menegaskan pentingnya menyuarakan keadilan. Al- Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menulis: “Jika manusia diam terhadap kezaliman, maka orang zalim akan mengira bahwa dirinya berada di atas kebenaran.”
Realitas itu harus segera dihentikan, jika kita tidak mau berjalan mundur. “Mari kita lihat, bahwa negeri-negeri yang mengalami kemunduran dan keterpurukan, bukan karena rakyatnya kurang bekerja keras atau sumber daya alamnya habis, akan tetapi karena keadilan tidak lagi menjadi pegangan.” “Hukum berdiri gagah saat berhadapan dengan rakyat kecil, akan tetapi bertekuk lutut di hadapan mereka yang berkuasa,” ulas Khotib Muhdori.
Seruan dan Ajakan
Makanya, ia mengajak, mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran. Agar kita tidak hanya kembali kepada fitrah pribadi, tetapi juga mengembalikan negeri ini kepada fitrah keadilan.
Ia mengutip firman Allah Ta’ala dalam Surat Hud, ayat 113; “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”
Namun, di tengah berbagai tantangan yang ada, Khotib Muhdori juga berpesan, jangan sampai kita kehilangan harapan. Allah Maha Adil, dan keadilan-Nya pasti akan ditegakkan. Tugas kita adalah terus berikhtiar, berdoa, dan menjaga fitrah kita agar tetap bersih, sebagaimana hati yang kembali suci setelah Ramadan.
Idul Fitri yg kita rayakan bersama ini, adalah momen kita kembali pada fitrah setelah ditempa oleh ibadah Ramadan sebulan lamanya. Namun, ujian mengendalikan hawa nafsu tidak berakhir sampai di sini, melainkan terus berlanjut sepanjang hidup. Setidaknya, Ramadan telah mengajarkan kita untuk lebih taat, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama.
Mari kita jadikan hari yang suci ini sebagai awal baru untuk memperjuangkan keadilan dengan cara yang penuh hikmah, kelembutan, dan keikhlasan.
Rasulullah saw mengajarkan bahwa dakwah harus disampaikan dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Namun, tetap harus proporsional dan tidak pilih kasih dalam menegakkan keadilan.”
Dalam hadits Bukhori dan Muslim Rasulullah bersabda:
“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku akan memotong tangannya.”
Pesan utama dari hadits ini adalah bahwa keadilan dalam Islam harus ditegakkan tanpa pilih kasih. Tidak boleh ada diskriminasi dalam penerapan hukum, baik terhadap orang biasa maupun kalangan terhormat.
Doa Untuk Umat dan Presiden Prabowo
Idul Fitri menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah. Tidak hanya dalam hubungan kita dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan dengan sesama manusia. Marilah kita berdoa dengan tulus agar negeri ini diberkahi dengan pemimpin yang adil serta masyarakat yang mencintai kebenaran.
Dari mulut-mulut yang sering berkata dusta, dari tangan- tangan kotor yang sering melakukan perbuatan salah dan dosa, dan dari kaki-kaki yang sering berkubang dalam lumpur kemaksiatan.
“Allahumma, ya Allah, Tuhan yang Maha Pengampun: Ampuni dosa-dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, kakek nenek kami, guru-guru kami, para pemimpin negeri ini yang beriman, ampuni semua dosa kaum muslimin-muslimat, mukminin -mukminat. Baik mereka masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.”
“Ya Allah Ya, Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.”
“Ya Allah, ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban berat sebagaimana Engkau telah bebankan kepada orang-orang sebelum kami.”
“Ya Allah, ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tak sanggup memikulnya. Ma’afkan kami, ampuni kami dan rahmatilah kami, Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”.
“Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan anak keturunan Kami sebagai penyejuk hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
“Allahumma, ya Allah ya, Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, qiyamu lail kami, ruku’ dan sujud kami serta seluruh abadah kami dan sempurnakanlah segala kekurangan kami dalam melaksanakan ibadah kepada-Mu, wahai Tuhan semesta alam.”
“Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina, lindungilah mereka, rahmatilah mereka, dan angkatlah kezaliman atas mereka, wahai Tuhan semesta alam.”
“Ya Allah, wahai Tuhan kami, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Bijaksana, limpahkanlah taufik dan hidayah-Mu kepada hamba-Mu, Bapak Presiden Prabowo Subianto. Bimbinglah hatinya dengan cahaya hikmah, teguhkanlah langkahnya dalam menegakkan keadilan, dan lembutkanlah hatinya agar menjadi penolong bagi yang lemah serta pembela bagi yang terzalimi.”
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadanya kesehatan, kesabaran, dan kekuatan. Bimbinglah ia dalam menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.”
“Ya Allah, lindungilah negeri kami dari fitnah dan perpecahan, jauhkanlah dari kezaliman dan keburukan.” “Limpahkanlah keberkahan dan rahmat-Mu kepadanya, serta jadikanlah negeri ini aman dan damai.
Aamiin ya, Rabbal alamiin. (wol/rls/d2)
Editor: Ari Tanjung
Discussion about this post